Cara Implementasi Pemeriksaan Vital Signs untuk Praktik Keperawatan dan Bidan - Biotekners

Rabu, 16 Desember 2020

Cara Implementasi Pemeriksaan Vital Signs untuk Praktik Keperawatan dan Bidan

Assalamu'alaikum Wr. Wb - Tanda vital atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Vital Signs merupakan parameter hasil dari proses fisiologi organ tubuh yang dapat diukur menggunakan alat seperti spygnomanometer, termometer dan arloji. 

Ilustrasi | pixabay.com

Tidak selamanya nilai tanda vital berada dalam rentang normal. Setiap waktu nilai tanda vital bisa berubah tergantung dari faktor usia, suhu dan tingkat aktivitas. Dalam dunia kesehatan, pemeriksaan tanda vital menjadi langkah utama untuk mengevaluasi kondisi pasien. Dengan mengetahui tanda vital, praktisi kesehatan seperti perawat, dokter atau bidan bisa menentukan langkah pertolongan pertama seperti apa  yang harus dilakukan. Misalnya jika ada pasien yang mengeluh sesak saat tiba di ruang instalasi gawat darurat (IGD), maka perawat bisa mengkaji berapa nilai respirasi dan tensi darah. Selain itu, perawat juga bisa mengkaji kondisi umum apakah kesadaran pasien penuh (compos mentis) atau tidak. 

Secara umum nilai tanda vital yang wajib dikaji dan memiliki rentang nilai normal adalah sebagai berikut : 

Tensi Darah 

Untuk dapat mengetahui besaran tekanan darah seseorang dibutuhkan alat spygnomanometer dan teleskop.Spygnomanometer memiliki 3 bagian : manset yang diisi dengan udara saat pengukuran dan dipasangkan pada lengan tepatnya di area arteri brakialis atau fosa antekubital. Kemudian gunakan teleskop digunakan untuk auskultasi bunyi denyut nadi saat pengukuran. Denyutan tersebut merupakan hasil dari pompa jantung ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Karena adanya dorongan dari jantung, maka akan muncul 2 tekanan yang bisa dideteksi pada pembuluh darah saat pemeriksaan : 
  1. Tekanan Sistolik : tekanan yang terbentuk ketika jantung berkontraksi dan memompa darah yang kaya oksigen ke pembuluh darah. 
  2. Tekanan Diastolik : tekanan yang terjadi ketika jantung bereleksasi dan umumnya tekanan diastolik lebih rendah dibandingkan tekanan sistolik.
Yang harus diperhatikan saat akan melakukan pemeriksaan tekanan darah agar dapat memperoleh nilai yang tepat adalah : 
  1. Jangan makan atau minum 30 menit sebelum pemeriksaan tensi darah 
  2. Kosongkan vesika urinaria atau berkemih terlebih dahulu agar tidak ada perasaan yang gelisah saat dilakukan pemeriksaan 
  3. Posisikan pada posisi duduk yang nyaman 5 menit sebelum pemeriksaan 
  4. Hindari posisi duduk dengan kaki bersilang atau meletakkan satu kaki di atas kaki yang lain 
  5. Letakkan tangan pada meja pada saat dipasangkan manset 
  6. Posisikan nilai tekanan manset berada pada posisi 0 
  7. Jangan berbicara saat Anda sedang dilakukan pemeriksaan tekanan darah 
Untuk dapat mengukur tensi darah dengan baik, seorang pemeriksa juga diharuskan memiliki kompetensi. Adapun kompetensi yang harus dikuasai antara lain sebagai berikut : 
  1. Pemeriksa memiliki kemampuan auskultasi yang baik yaitu dapat membedakan dengan jelas antara bunyi nadi pasien atau nadi miliknya pada saat meletakan stetoskop di area brakial. 
  2. Pemeriksa juga harus dapat melihat jarum pada manometer dengan jelas di mana batas tekanan sistolik dan diastolik. 
  3. Memahami perbedaan tekanan darah yang disebabkan karena suhu, aktivitas dan posisi duduk. 
  4. Memahami tujuan pemeriksaan dan edukasi kesehatan yang bisa diberikan kepada pasien yang diperiksa jikalau nilai tensi darah tidak berada dalam rentang normal. 
Cara meletakkan manset dan stetoskop untuk pengukuran tensi darah : 
Bagian Manset 

  1. Palpasi terlebih dahulu untuk mengkaji lokasi arteri brakhial dengan 3  jari di fosa antekubital. 
  2. Letakkan bladder (kantung udara) pada manset di atas area yang teraba arteri brakial. 
  3. Pastikan ada ruang di bawah manset untuk meletakkan stetoskop agar bisa dilakukan auskultasi. 
  4. Untuk memastikan manset tidak terlalu ketat, coba letakkan satu jari di bawah manset. Jika satu jari dapat dimasukkan artinya manset bisa diletakkan stetoskop di bawahnya 
  5. Lakukan inflasi udara ke bladder manset, pompa hingga 30 mmHg di atas titik bunyi nadi menghilang 
  6. Teknik deflasi atau pengeluaran udara dari manset dilakukan dengan kecepatan 2 mmHg per detik atau per satu denyutan nadi untuk mendapatkan nilai tekanan darah yang akurat. 
Mengenai hasil pemeriksaan tekanan darah, nilai pemeriksaan bisa menunjukkan bahwa pasien masuk ke dalam penderita hipertensi atau tidak. Jika ditinjau dalam hal tersebut, maka pengklasifikasiannya dibagi menjadi : 
  1. Normal : Sistole (<120 mmHg) dan diastole (<80 mmHg) 
  2. Peningkatan : Sistole (120 - 129 mmHg) dan diastole (<80 mmHg) 
  3. Hipertensi stadium 1 : Sistole (130 - 139 mmHg) dan diastole (80 - 89 mmHg) 
  4. Hipertensi stadium 2 : Sistole (> 140 mmHg) dan diastole > 90 mmHg) 

Rasio Respirasi (RR) 

Untuk dapat mengetahui nilai rasio pernapasan normal, maka langkah pengukuran dilakukan dengan inspeksi atau observasi. Namun seiring perkembangan teknologi pemeriksaan pernapasaan saat ini dapat dilakukan dengan beberapa teknologi salah satunya Vital Scope. Alat ini digunakan untuk mengukur pernapasan yang memanfaatkan sensor radar dengan gelombang frekuensi 24 GHz. Sensor tersebut akan memonitor pergerakan dada dan mengumpulkan informasi ke dalam prosesor pada device kemudian menghasilkan output berupa perhitungan jumlah pernapasan dalam 1 menit. 
Vital Cope | hindawi.com

Perubahan pernapasan dapat mengindikasikan adanya masalah yang sedang dialami pasien. Sekecil apapun perubahan tersebut, baik pertambahan 3 atau 5 kali per menit maka perlu adanya monitoring yang akurat. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan apakah perubahan pernapasan akan mempengaruhi kesadaran si pasien. Dalam kondisi gawat darurat, pengukuran pernapasan menurut Resusciation Council UK merupakan proses pengkajian ABCDE (Air ways, Breathing, Circulation, Disability, Exposure). Maksud dari pengkajian ABCDE yaitu Airways (memastikan jalan napas bersih atau tidak), Breathing (Apakah pernapasan dalam rentang normal atau tidak), Circulation (apakah perdarahan baik atau tidak dikaji melalui tekanan darah atau irama jantung), Disability (apakah ditemukan kecacatan atau tidak), Exposure (apakah pasien berada dalam lingkungan yang mengancam jiwa atau tidak). 

Pengklasifikasian nilai pernapasan pada orang dewasa di bagi sebagai berikut : 
  1. Pernapasan normal / eopnoea (12 - 20 kali per menit)
  2. Pernapasan normal untuk usia > 65 tahun (12 - 25 kali per menit) 
  3. Pernapasan normal untuk usia > 80 tahun (10-30 kali per menit) 
  4. Bradipnea / pernapsan lambat (< 12 kali per menit) 
  5. Takipnea / pernapasan cepat (> 20 kali per menit) 
Sementara pernapasan pada bayi baru lahir dan anak-anak berada dalam rentang berikut : 
  1. Bayi baru lahir (0 hari - 1 tahun) : 40 - 65 x / menit 
  2. Toddler (1 - 3 tahun) : 24 - 40 x / menit 
  3. Pra sekolah (3 - 6 tahun) : 22 - 34 x / menit 
  4. Usia sekolah (6 - 12 tahun) : 18 - 30 x / menit 
  5. Remaja (12 - 18 tahun) : 12 - 24 x / menit 
Beberapa faktor penyebab pernapasan tidak berada dalam rentang normal : 
  1. Takipnea dapat disebabkan oleh : Cemas, distres, nyeri, demam, berolahraga, asma, embolisme paru, pneumonia, acute respiratory distres syndrome, anafilaksis, gagal jantung, terkejut, diabetik ketoasidosis, gangguan nuromuskular, penyakit paru obstruksi kronis. 
  2. Bradipnea dapat disebabkan oleh : depresi pusat pernapasan, overdosis opioid, peningkatan tekanan intrakranial, koma diabetik, kelelahan karena obstruksi paru berat, tidur apnea, sindrom hipoventilasi karena obesitas

Temperatur 

Temperatur tubuh merupakan proses fisiologis yang bisa diukur dengan cara observasi dan palpasi. Sama halnya dengan beberapa parameter vital signs di atas, temperatur tubuh juga dapat berubah-ubah tergantung kepada jenis kelamin, aktivitas, dan siklus menstruasi pada wanita. Secara umum, nilai normal suhu tubuh baik dewasa dan anak-anak sama yaitu 36,5 - 37,2 derajat Celcius / 97,8 - 99 derajat Fahrenheitz. Alat pengukuran yang digunakan untuk memeriksa suhu tubuh adalah termometer. Penggunaan termometer air raksa saat ini tidak direkomendasikan penggunaannya karena air raksa bersifat toksik. 

Selain itu untuk memudahkan pengukuran di tempat umum, beberapa pengkaji juga menggunakan thermo gun
Termo gun | Dispatch.com

Pemeriksaan temperatur dapat dilakukan pada beberapa lokasi pengambilan : 
  1. Oral : pengambilan melalui jalur oral yaitu dengan memasukan termometer raksa atau digital ke dalam mulut. 
  2. Rectal : memasukkan termometer raksa atau digital ke dalam rektum atau anus. Suhu pada rektum biasanya akan lebih tinggi sekitar 0,5 - 0,7 derajat Fahrenheitz dibandingkan suhu oral. 
  3. Aksila : meletakkan termometer raksa atau digital pada area lipatan ketiak. Suhu pada aksila umumnya akan lebih rendah 0,3 - 0,5 derajat F dibandingkan suhu oral. 
  4. Kulit : dengan cara palpasi pada bagian anterior kepala atau dahi. 
  5. Di telinga : menggunakan termometer khusus untuk mengukur suhu pada gendang telinga 

    Termometer telinga | rapidcityjournal.com

Denyut Nadi 

Mengukur denyut nadi sama halnya dengan mengetahui denyut jantung. Hal tersebut karena ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh maka akan muncul tekanan hingga ke pembuluh nadi. Secara normal denyut nadi orang dewasa berada pada rentang 60 - 100 kali per menit. Denyut nadi bersifat fluktuatif dan akan meningkat ketika berolahraga, cemas, sakit dan marah. 

Pemeriksaan nadi | hopskinsmedicine.org

Untuk dapat memperoleh hasil pemeriksaan nadi yang akurat, maka langkah proses pemeriksaan adalah sebagai berikut : 

  1. Gunakan dua atau tiga jari untuk palpasi dengan memberikan sedikit tekanan pada area arteri (radialis / brakialis / karotis dll). 
  2. Hitung dengan menggunakan arloji pada saat jarum menunjuk ke angka 12. 
  3. Hitung nadi selama 60 detik, jikalau denyut jantung reguler maka dapat dilakukan selama 15 detik dan jumlah denyut nadi dikali 4
  4. Saat menghitung, fokus pemeriksa jangan hanya tertuju pada arloji tetapi perhatikan kekuatan denyut jantung 
  5. Jika tidak merasa yakin dengan hasil pemeriksaan, minta orang lain atau teman untuk memeriksa untuk memastikan kebenaran pemeriksaan. 

Demikian informasi mengenai cara implementasi pemeriksaan vital signs yang bisa dilakukan oleh praktisi kesehatan seperti keperawatan, bidan dan kedokteran. Semoga bermanfaat. 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Referensi 

  1. https://medlineplus.gov/ency/article/002341.htm
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279251/#:~:text=To%20measure%20blood%20pressure%2C%20the,let%20out%20of%20the%20cuff.
  3. https://www.cdc.gov/bloodpressure/measure.html 
  4. https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/HYP.0000000000000087
  5. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/vital-signs-body-temperature-pulse-rate-respiration-rate-blood-pressure#:~:text=The%20normal%20pulse%20for%20healthy,heart%20rates%20than%20do%20males.
  6. https://www.hindawi.com/journals/js/2018/4371872/
  7. https://www.nursingtimes.net/clinical-archive/respiratory-clinical-archive/respiratory-rate-3-how-to-take-an-accurate-measurement-25-06-2018/
  8. https://www.medicalnewstoday.com/articles/327164#healthy-rates

Share with your friends

Assalamualaikum. Ada pertanyaan ? Yuk diskusi di bawah