Biotekners

Minggu, 21 Maret 2021

10 Daftar Praktik Mandiri Perawat Luka Tersertifikasi yang ada di Kalbar
0

10 Daftar Praktik Mandiri Perawat Luka Tersertifikasi yang ada di Kalbar

Selama masa pandemi 2019, perawat menjadi tenaga kesehatan professsional yang sangat dicari. Keberadaan perawat sebagai garda terdepan sangat dibutuhkan masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit menular mematikan tersebut. Maka dari itu tidak heran saat pandemi hampir semua instansi kesehatan membuka lowongan bagi tenaga perawat yang ingin berkontribusi membantu merawat pasien yang terinfeksi covid-19. Bahkan instansi pemerintah baik daerah maupun pusat tidak segan-segan menawarkan gaji besar bagi perawat yang ingin bergabung menjadi relawan Covid-19. 

illustrasi | flickr.com


Sejatinya, tenaga perawat sebenarnya sudah ada sejak lama sebelum Covid-19 melanda dunia. Hanya saja keberadaannya tidak begitu dikenal seperti saat pandemi. Sebagian besar masyarakat lebih mengenal dokter dan bidan. Nama perawat hanya dikenal sebagai mantri. Padahal di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar) sendiri sudah ada perawat spesialis yang fokus pada bidang perawatan tertentu seperti perawat anastesi, perawat haemodialisa, perawat jiwa, dan perawat luka. 

illustrasi | pixabay.com

Khusus di Kalbar, ada 2 organisasi besar perawat yang sudah terbentuk selain organisasi perawat nasional Indonesia / PPNI. Dua organisasi tersebut antara lain Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) dan Ikatan Perawat Luka Indonesia (InWocna). Dengan adanya 2 organisasi perawat ini maka sebenarnya masyarakat sudah tidak kesulitan lagi jika ingin mencari perawat spesialis sesuai kebutuhan perawatan. Terutama untuk perawat luka, di Kalbar anggotanya sudah cukup banyak yaitu mencapai sekitar 400 orang. Meskipun jumlahnya cukup banyak, hanya ada beberapa saja yang membuka pelayanan praktik mandiri. Adapun daftar praktik perawat luka tersertifikasi yang tersedia di Kalbar : 

  1. Klinik 'Aisyiyah Pontianak - Ns. Khoirul Rista Abidin, M.Biomed., CDWCN : melayani perawatan area Tanjung Raya 2, Ampera dan Sui Kakap, Pontianak (kontak WA) 

    Klinik 'Aisyiyah Pontianak | Sumber IG : aisyiyah_klinik

  2. Klinik Kitamura Pontianak - Dr. Suriadi, MSN., AWCS : melayani perawatan area Pontianak Kota, Jalan Pancasila, Jalan KH. Wahid Hasyim, Pontianak (kontak WA)

    Klinik Kitamura | Sumber : Google Bisnis 

  3. Rumah Luka Alra Care - Aswin, S.Tr., Kep., CDWCN : melayani perawatan area Kota Baru, Pontianak (kontak WA)
  4. Aura Care - Dian Septiyarni, Ns., CWCS : melayani perawatan area Desa Kalinilam, Ketapang (kontak WA)
  5. Rumah Luka Maizar - Ns. Deni Ariyadi, CDWCN : melayani perawatan area Sanngau Kapuas dan Sekadau (kontak WA)

    Rumah Luka Maizar | Sumber IG : rumahluka_maizar

  6. Rumah Luka Pro Care - Ns. Jerry Fahrain, CDWCN : melayani perawatan area Mempawah Kota (kontak WA)
  7. Praktik Perawat Cahaya Kita - Adrianus Frendi, A.Md. Kep : melayani perawatan area Kubu Raya (kontak WA)
  8. Praktik Mandiri Perawat Sintang - Dimas Eko Kusprihastono, Ns., CWCS : melayani perawatan area Sintang (kontak WA)
  9. Rumah Luka Sahabat Care - Ns. Rizal Mustakim, CDWCN : melayani perawatan area Kota Baru (kontak WA)
  10. Praktik Mandiri - Syahbandi, A.Md., Kep, CDWCN : melayani perawatan area Tanjung Pinoh (kontak WA)

Demikian informasi tentang praktik mandiri perawat luka yang ada di Kalimantan Barat. Buat Bapak/Ibu yang  ingin menghubungi perawat luka di atas, hanya perlu klik link Kontak WA yang tertera. 

Terima Kasih

#perawatlukakalbar #perawat luka pontianak 

Minggu, 03 Januari 2021

Teknik Pengambilan Foto Luka untuk Proses Penelitian dan Case Studi
0

Teknik Pengambilan Foto Luka untuk Proses Penelitian dan Case Studi

Illustrasi | pixabay.com

Latar Belakang

Penelitian luka di Indonesia terus berkembang dan semakin memanfaatkan teknologi yang maju. Metode penelitian luka terus mengalami pembaruan seiring dengan bertambahnya masalah baru yang ditemukan di lapangan. Untuk bisa memperoleh hasil penelitian yang baik, maka rancangan metode penelitian yang dirancang juga harus tertata dengan baik. Terutama metode harus berdasarkan studi terbaru yang sudah terbukti landasan empirisnya.  

Dalam proses penyusunan metode  penelitian ada tahapan yang dilakukan diantaranya merancang bahan dan alat penelitian, desain termasuk pembagian kelompok, cara pengukuran parameter, pengkodean dan penghitungan hasil menggunnakan uji statistik. Dalam perawatan luka, metode penelitian dapat berupa penentuan skala pengukuran, intervensi terapeutik, uji kultur atau biopsi dan cara pendokumentasian data luka berupa foto. Untuk pendokumentasian foto luka, peneliti tidak boleh mengabaikan beberapa poin penting dalam teknik pengambilan  meskipun sekilas terlihat sepele. 

Beberapa studi telah dilakukan tentang bagaimana proses pengambilan foto yang tepat agar keakuratan data untuk pengukuran bisa sesuai. Dalam hal ini, penulis mencoba merewiew paper tentang metode pengambilan foto luka berdasarkan riset yang sudah dilakukan. Metode penelusuran dan pemilihan studi dilakukan dengan mempertimbangkan impact factor > 1 dan nilai Qwartil (Q < 3 ) jurnal. 

Mengevaluasi Luka 

Proses mengevaluasi luka berarti menilai apakah luka masuk ke dalam grade ringan, sedang dan berat. Untuk bisa menentukan grade, maka beberapa parameter yang dapat diamati berupa luas luka (panjang x lebar), kedalaman, kondisi tepi luka. Tingkat derajat luka terbagi atas tingkat kebersihan luka yang dikelompokan berdasarkan klasifikasi Center for Disease Control dan Prevention (CDC)  : 
  1. Stase 1 : Luka dipastikan bersih. Tidak ada tanda infeksi, peradangan dan luka tertutup. 
  2. Stase 2 : Luka terkontaminasi namun tetap bersih. Luka jenis ini biasanya terhindar dari kontaminasi yang tidak wajar. Luka ini masuk ke jenis luka di sistem pernapasan, saluran kencing dan genital. 
  3. Stase 3 : Luka terkontaminasi. Luka terbuka dan bisa berasal dari kontaminasi penggunaan alat yang tidak steril. 
  4. Stase 4 : Luka kotor terinfeksi. Luka jenis berasal dari perawatan yang kurang baik pasca luka traumatik. Penyebab infeksi berasal dari mikroorganisme post tindakan operasi. 
Sedangkan derajat luka berdasasarkan tingkat kedalaman, dibagi menjadi kategori sebagai berikut  : 
  1. Stase 1 : ditandai dengan adanya kemerahan, teraba hangat dan biasanya disertai rasa nyeri
  2. Stase 2 mencapai lapisan ketebalan parsial dermis di kulit, ditandai dengan adanya luka terbuka berwarna pink kemerahan namun tidak ada slough (jaringan mati lunak)
  3. Stase 3 mencapai sebabgian besar lapisan dermis kulit bahkan hingga ke subkutan namun bagian tendon dan tulang belum terekspos 
  4. Stase 4 mencapai lapisan dermis kulit disertai dengan tereksposnya tulang dan tendon. Tereksposnya tulang bisa menyebabkan risiko infeksi dengan lingkungan eksterna sehingga biasanya pada stase 4 pressure ulcer akan disertai osteomyelitis (infeksi tulang). 

Eksplorasi Lokasi Luka 

Eksplorasi lokasi luka berarti mengkaji di mana saja bagian tubuh yang mengalami luka. Agar dapat menentukan dengan baik posisi luka, pengkaji harus mampu membedakan mana luka yang berada di area superfisial atau mencapai jaringan dermis sampai menghasilkan eksudat. Kemampuan membedakan warna luka yang pucat, iskemik atau nekrotik juga diperlukan. Jika luka ditemukan di beberapa lokasi bagian tubuh, maka perlu menggunakan diagram tubuh manusia atau tabel selanjutnya berikan label dengan urutan huruf atau angka. 

Luka yang Pucat | woundsource.com
Luka Iskemik | intechopen.com

Luka Nekrotik | bbraun.co.uk

Istilah Dalam Pengkajian Luka 

Dalam pengkajian luka, pengkaji harus memahami beberapa istilah yang menggambarkan kondisi luka. Pemahaman tentang istilah ini dapat bermanfaat untuk membantu mengisi data pengkajian luka. Beberapa istilah yang harus diketahui antara lain : 
  1. Eksudat : merupakan cairan yang dihasilkan luka, eksudat terbagi atas beberapa jenis : Sanguineus (berwarna merah darah), Serous (berwarna bersih atau kuning pucat), Serousanguineus (serous dengan sedikit kemerahan darah), purulen (pus berwarna kuning, hijau atau coklat), scant (jumlah cairan luka yang sedikit saat pergantian perban), ringan (eksudat sekitar 1/3 perban), sedang (eksudat hampir menutupi 2/3 perban dan kondisi perban basah sebagian), berat (kondisi perban semuanya basah menutupi lebih dari 2/3 perban luka). 
  2. Maserasi : merupakan kondisi kulit sekitar luka yang lembab berlebihan, ditunjukan dengan permukaan yang berwarna putih, lembut dan biasanya ada kulit yang rusak. 
  3. Skin tear : luka yang disebabkan karena gesekan yang menyebabkan terpisahnya jaringan kulit. 
  4. Wound bed : merupakan kondisi dasar luka yang terbagi atas granulasi atau tidak, infeksi atau tidak. 
  5. Calus : kondisi penebalan kulit pada area tepi luka 
  6. Eschar : jaringan nekrotik berwarna coklat atau hitam, teksturnya keras, lembut atau basah
  7. Epitelialisasi : proses regenerasi jaringan epidermis pada permukaan luka setelah melewati fase granulasi. 
  8. Sinus : jaringan yang rusak yang membentuk terowongan dari permukaan atau tepi luka
  9. Tunnel : mirip dengan sinus, namun arah kerusakan vertikal.  
  10. Slough : jaringan mati yang lunak dan sudah tidak memiliki vaskularisasi. Jaringan mati tersebut biasa berwarna putih, kuning atau hijau
  11. Undermining : jaringan rusak yang membentuk semacam kawah di bawah lapisan kulit yang utuh.

Kondisi maserasi | oska.uk.com
Kalus | pinterest.com
Sinus | science-photo.com

Slough | woundifenction-institute.com

Jenis dasar luka | imi.org.uk

Teknik Pengambilan Foto Luka

Alat Pengambilan Gambar

Agar dapat melakukan pengambilan gambar luka yang baik, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan salah satunya mempersiapkan alat pengambilan gambar. Alat pengambilan gambar yang yang dianjurkan adalah kamera digital dengan resolusi yang tinggi. Keuntungan jika pengambilan dilakukan dengan menggunakan kamera digital yaitu pada saat selesai pengambilan gambar, maka pemeriksa dapat meninjau dahulu hasil fotonya secara langsung. Peninjauan langsung gambar foto setelah pengambilan bertujuan untuk memastikan bahwa gambar luka yang diperoleh tidak blur, mendapatkan pencahayaan cukup dan tidak salah pada posisi pengambilan. Kamera dengan resolusi yang tinggi juga memberikan kemudahan untuk mengkaji detil kondisi luka secara akurat. Selain kamera digital, kamera tipe Digital Single-Lens Reflex (DSLR) dengan fokal lensa 60 mm, 90 mm atau 100 mm juga dapat memberikan hasil foto luka yang representatif karena dapat menghasilkan kualitas gambar, pencahayaan dan resolusi yang tinggi. Dengan menggunakan kamera DSLR, pengkaji juga dapat melakukan teknik photomacrography yaituu teknik untuk memperbesar gambar sama seperti kondisi asli luka. Jika pada kamera digital, maka pengaturan kamera harus berada pada settingan makro agar mendapatkan hasil gambar yang tajam. Kelemahan menggunakan kamera DSLR yaitu harga kamera ini cukup mahal dan ukurannya yang besar juga membutuhkan energi ekstra untuk membawa secara rutin kamera DSLR selama penelitian. 

Protokol Pengambilan Gambar Luka

Langkah-langkah pengambilan gambar luka dirangkum sebagai berikut : 
  1. Lepaskan semua balutan luka dan irigasi luka dahulu dengan NacL 0,9% 
  2. Setelah luka diirigasi, dokumentasikan kondisi luka dalam form pengkajian luka.
  3. Pengisian form pengkajian luka selesai, bersihkan jaringan nekrotik, slough dan debris. 
  4. Lakukan pengambilan gambar luka meliputi kulit yang sehat, selulitis dan kalus 
  5. Jika pada luka ditemukan kerusakan yang menyebabkan terbukanya jaringan kurang dari 2 cm maka dianggap masuk sebagai bagian luka yang sama. 
  6. Letakan penggaris luka di bagian bawah tepi luka (lebih bagus pada bagian luar selulitis atau kalus . 
  7. Gunakan penggaris berbentuk L dan sudut penggaris dengan arah kamera sejajar atau tanpa distorsi. 
  8. Untuk menghindari kesalahan pengambilan, kamera disejajarkan dengan bidang luka. 
  9. Atur antara jarak kamera dan luka atau menggunakan fungsi zoom, hindari pengambilan gambar yang buram dengan menggunakan auto fokus dengan menahan setengah tombol capture pada kamera. 
  10. Jika menggunakan cermin, pastikan tidak ada obstruksi pada cermin dan letakkan cermin pada posisi datar. Hasil gambar harus diposisikan terbalik dari posisi pada refleksi di cermin. 
  11. Standar perbesaran gambar untuk bagian tubuh orang dewasa berdasarkan  Wild Clinical Photographic : kaki (1: 25), tapak kaki (1: 10). Informasi lengkap tentang perbesaran gambar klik di sini
  12. Pastikan background objek foto netral, tidak ada objek lain yang bisa mendistraksi hasil foto
  13. Atur pencahayaan jika ingin menggunakan flash pada kamera agar tidak terlalu terang dan pencahayaan harus konsisten. 
  14. Lakukan pengulangan pengambilan gambar untuk mengantisipasi kualitas gambar yang kurang bagus pada pengambilan pertama. 
  15. Pengeditan foto untuk membuang bagian yang tidak penting dilakukan menggunakan Adobe Photoshop (Adobe Inc, San Jose, California), lakukan rotasi gambar sehingga gambar penggaris luka konsisten berada pada bagian bawah foto. 

Alur pengambilan gambar luka (1. Buka perban, 2. Irigasi luka, 3. Atur jarak pengambilan gambar, 4. Simpan | Rener et al., 2008)

Gambar luka yang diberi background non distraksi | imi.org.uk

Sudut pengambilan gambar luka (yang dilingkar merah yang benar) | Renner et al., 2008
Teknik pengambilan gambar luka dengan penggaris (yang dilingkar merah adalah teknik yang benar ) | imi.org.uk

Demikian informasi tentang teknik pengambilan foto luka untuk penelitian dan case studi. Jika ada tambahan informasi, silahkan berbagi dengan menghubungi kontak penulis. 

Referensi : 

  1. Anonim. 2003. WOCN Glossary of Wound Care Terms. Diakses dari : https://journals.lww.com/homehealthcarenurseonline/Citation/2003/08000/WOCN_Glossary_of_Wound_Care_Terms.3.aspx [2 Januari 2021]
  2. Anonim. 2018.Here’s the wound terminology you should know. Diakses dari : https://advancedtissue.com/2018/10/heres-the-wound-terminology-you-should-know/ [2 Januari 2021]
  3. Herman TF, Bordoni B. Wound Classification. [Updated 2020 May 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554456/
  4. Institute of Medical Illustrutators (IMI). 2019. IMI National Guidelines : Wound Management Photography [Online]. Diakses dari : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.imi.org.uk%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F04%2F2019_Apr_IMINatGuidelines_Wound-Management.pdf&psig=AOvVaw09h4n_1FDmujM8bpGtiISL&ust=1609732738013000&source=images&cd=vfe&ved=2ahUKEwjX8cPx7_7tAhXihUsFHZGSBGgQr4kDegUIARDjAQ [3 Januari 2021]
  5. Renert, R., Golinko, M et al., 2008. Standardization of Wound Photography Using the Wound Electronic Medical Record. Advances in Skin and Wound Care. Vol 22 (1) : 
  6. Vasudevan B. (2014). Venous leg ulcers: Pathophysiology and Classification. Indian dermatology online journal, 5(3), 366–370. https://doi.org/10.4103/2229-5178.137819






Selasa, 29 Desember 2020

Daftar 12 Aplikasi yang Wajib Diinstal di Smartphone untuk Mendukung Kegiatan Penelitian
0

Daftar 12 Aplikasi yang Wajib Diinstal di Smartphone untuk Mendukung Kegiatan Penelitian

Ilustrasi | Pixabay.com

Assalamu'alaikum Wr. Wb. - Di era industri 4.0 seperti sekarang kebutuhan akan teknologi menjadi sangat masif. Hampir sebagian besar orang mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Mulai dari membereskan rumah, mendesain, pergi ke kantor, mengantar barang sampai berdagang. Jika kita lihat di toko aplikasi (Playsore | AppStore) pun juga sudah banyak pengembang yang menawarkan aplikasi buatannya agar dapat dimanfaatkan masyarakat. 

Meskipun demikian, tidak semua orang paham manfaat apa yang bisa diperoleh dari aplikasi yang tersedia di toko aplikasi tersebut.  Contoh kecil sebagian orang di lingkungan akademik seperti guru atau dosen masih banyak yang belum mengetahui aplikasi untuk menunjang kinerja saat mengajar atau meneliti. Faktor penyebabnya karena para pengajar belum terpapar dengan informasi mengenai teknologi untuk pendidikan atau ketidakingintahuan pengajar terhadap perkembangan teknologi. 

Untuk proses pembelajaran, mungkin sebagian pengajar sudah tidak asing dengan Google Classroom, Edmodo, Zoom, Google Meet dan Youtube. Apalagi di masa pandemi Covid-19 semua pengajar pasti sudah memanfaatkan 5 aplikasi mainstream tersebut. 

Tetapi untuk mendukung kegiatan riset, penulis yakin tidak semua pengajar paham aplikasi apa saja yang perlu digunakan. Maka dari itu, dalam tulisan ini penulis mencoba merangkum 10 daftar aplikasi yang wajib diinstall oleh pengajar saat melakukan kegiatan penelitian : 

CamScanner 

CamScanner | play.google.com

Saat melakukan penelitian, kita pasti tidak akan terhindar dari aktivitas mendokumentasikan berkas. Terutama data-data hasil pemeriksaan laboratorium dan kwitansi. Agar dapat terdokumentasi baik, melakukan scan berkas adalah hal yang paling baik. Jika dahulu, untuk bisa melakukan scan, kita membutuhkan alat sscanner yang besar dan mahal. Untuk sekarang, kita cukup menggunakan smartphone dan semua berkas akan terdokumentasi dengan mudah dalam format PDF atau JPEG. Download aplikasi CamScanner di sini

Google Drive 
Google Drive | play.google.com

Google Drive mungkin menjadi aplikasi yang sudah tidak asing di semua kalangan. Aplikasi besutan perusahaan Google ini memberikan kemudahan kepada pengguna untuk menyimpan arsip-arsip penting secara online. Aplikasi Google Drive versi gratis menyediakan kapasitas hingga 15 GB. Manfaat yang bisa diperoleh dari Google Drive untuk penelitian adalah kita dapat mengarsipkan semua berkas penting dan membukanya di mana saja, kapan saja dan perangkat apa saja sesuai kebutuhan kita. Di dalam Google Drive, kita juga dapat membuat folder sesuai keinginan layaknya menggunakan PC seperti biasa. Download Google Drive di sini

StopWatch Timer 
StopWatch Timer | play.google.com

Buat rekan-rekan yang melakukan penelitian denngan mengukur intensitas aktivitas hewan coba, aplikasi Stop Watch Timer sangat cocok digunakan. Contoh pada penelitian dengan menggunakan uji Morris Water Maze. Fitur yang tersedia dalam aplikasi ini adalah kita bisa mengatur perhitungan waktu cepat atau lambat. Selain itu jika sudah mencapai waktu tertentu, maka ada alarm yang akan memberitahu pengguna. Download Stopwatch Timer di sini

Google Keep 
Keep | play.google.com
Kegiatan dokumentasi tidak pernah lepas dalam proses penelitian. Pencatatan yang baik diperlukan agar tidak ada satu informasi pun yang terlewat saat kita meneliti. Log book yang disediakan merupakan salah satu sarana yang wajib disediakan saat proses penelitian. Jika pada zaman dulu log book menggunakan buku sebagai catatan offline, maka dengan kemudahan teknologi sekarang log book bisa menggunakan bantuan aplikasi dari Google Keep ini. Kelebihan dari Google Keep adalah jika kita menyimpan catatan maka kita bisa lakukan pencarian catatan tersebut sampai ke isi konten. Selain itu juga catatan tersimpan secara online dan catatan juga dapat dibuka di PC. Sehingga tidak perlu khawatir kehilangan catatan selama kita masih mengingat alamat Gmail. Selain menulis catatan, dalam aplikasi Google Keep juga memungkinkan kita untuk menyimpan file gambar, dokumen atau suara. Dengan demikian, maka semua file penting dalam penelitian akan terdokumentasi dengan aman. Download aplikasi Google Keep di sini

Ipusnas - Perpustakaan Online
Ipusnas | play.google.com
Mencari referensi menjadi salah satu aktifitas untuk melengkapi kekuatan sumber data penelitian. Referensi bisa dicari dalam buku maupun jurnal penelitian. Nah, pada zaman dulu sebelum ada smartphone mungkin kita akan mencari referensi buku dengan cara nongkrong di perpustakaan. Kekurangan jika kita membaca buku di perpustakaan adalah pada saat perpustakaan ramai pengunjung, biasanya kita akan sulit menemukan tempat duduk untuk membaca. Karena hal tersebut, otomatis kita harus meminjam buku untuk dibawa pulang. Pada saat meminjam buku, tentunya juga ada kekhawatiran kalau buku yang dipinjam akan hilang atau rusak. Mengatasi masalah tersebut, sekarang tidak perlu pusing lagi karena sudah ada perpustakaan online. Keunggulan yang dimiliki dengan adanya perpustakaan buku online kita bisa membaca buku di mana saja dan kapan saja secara gratis. Selain itu tidak perlu khawatir buku akan rusak karena kita hanya meminjam E-Book. Download aplikasi Ipusnas di sini

Prime : Pubmed Journal 
Prime | play.google.com
Sama halnya dengan mencari referensi buku, jurnal juga menjadi bahan penting untuk sumber data penelitian. Agar penelitian didukung dengan informasi terbarukan, referensi jurnal yang digunakan dalam penelitian adalah minimal 5 tahun ke belakang. Untuk memudahkan pekerjaan mencari referenssi jurnal, rekomendasi aplikasi yang tepat di sini adalah aplikasi Prime : Pubmed Journal. Khusus penelitian di bidang kesehatan, aplikasi tersebut sangat cocok digunakan sebagai pertimbangan sumber referensi. Selain banyak koleksi jurnal yang gratis, publikasi penelitian terbaru juga banyak dirilis dalam jurnal Pubmed. Download aplikasi Prime di sini. Namun ada yang kurang dari aplikasi Pubmed Journal ini yaitu semua penelitian yang tersedia disajikan dalam bahasa Inggris. Maka untuk memudahkan penerjemahan, Anda membutuhkan aplikasi penerjemah. 

Google Translate 
Translate Google | play.google.com
Saat kita melakukan pengumpulan referensi untuk bahan penelitian, kita tentu akan pernah berhadapan dengan jurnal berbahasa Inggris. Jika kemampuan bahasa Inggris Anda masih lemah, maka aplikasi Google Translate sangat cocok dipakai untuk memudahkan penerjemahan jurnal. Selain menerjemahkan teks online, Google Translate juga dapat menerjemahkan bahasa melalui hasil tangkapan kamera. Untuk mendapatkan aplikasi Google Translate silahkan download di sini

Forms App 
Forms App | play.google.com
Jika Anda saat ini sedang melakukan riset kualitatif yang membutuhkan hasil survey, penulis sarankan agar menggunakan aplikasi Forms App ini. Dengan aplikasi Forms App, peneliti dapat dengan mudah membuat survey secara online. Kelebihan lain dari aplikasi Forms App yaitu pengguna dapat dengan mudah mengontrol isian form dari responden kapan saja, di mana saja secara live. Hasil survey juga dapat dilihat dalam bentuk diagram grafik. Peneliti tidak perlu repot harus memantau hasil survey menggunakan laptop, tetapi cukup dengan menggunakan smartphone. Untuk mendapatkan aplikasi Forms App, silahkan download di sini

Flip 
FLIP | play.google.com
Saat penelitian, biasanya kita akan disibukkan dengan kebutuhan transaksi transfer uang. Transaksi tersebut meliputi pembelian alat, bahan atau transfer honor. Jika kita mentransfer uang ke sesama rekening mungkin tidak akan begitu mengganggu catatan kas penelitian kita. Tetapi jika transferan tersebut ditujukan kepada rekening yang berbeda maka hal tersebut tentu akan mengganggu karena kita akan dibebankan biaya admin transfer sebesar Rp 6.500,- . Jika dalam sehari kita melakukan 5 kali transfer ke rekening berbeda, maka tambahan biaya yang dibebankan dalam kas penelitian kita sebesar Rp 32.500. Maka untuk mengatasi masalah tersebut, solusi yang bisa ditawarkan adalah menggunakan aplikasi FLIP. Keunggulan yang dimiliki aplikasi ini adalah kita dapat mengirimkan uang ke rekening berbeda tanpa harus membayar biaya admin sebesar Rp 6.500,-. Informasi lengkap tentang aplikasi ini, penulis telah ulas dalam postingan sebelumnya yang bisa dibaca di sini  Download aplikasi FLIP di sini

SKEDit

SKEDit | play.google.com
Kebutuhan akan komunikasi ke tim peneliti atau responden juga termasuk bagian penting dalam penelitian. Terutama jika kita membuat janji dengan responden, tentunya kita harus menghubunginya melalui messenger pada waktu tertentu. Tetapi terkadang kesibukan dalam penelitan membuat kita lupa harus menghubungi responden dalam jangka waktu tertentu. Maka, untuk mengatasi masalah tersebut kita butuh aplikasi yang bisa digunakan untuk mengirim pesan messenger secara otomatis. Sehingga saat tiba waktu untuk menghubungi, kita tidak perlu khawatir jika ternyata saat waktu tersebut kita lupa. Aplikasi yang sangat direkomendasikan untuk masalah ini adalah SKEDit. Kelebihan aplikasi ini adalah kita bisa mengatur waktu pengiriman pesan secara otomatis melalui messenger seperti Whatsapp. Pesan yang dikirimkan pun bisa ditujukan untuk satu individu atau grup. Untuk mendapatkan aplikasi SKEDit, Anda dapat mendownloadnya di sini

Document Reader 

Document Reader | play.google.com

Mengakses dokumen melalui messenger atau link google sering kita lakukan di mana saja bahkan saat penelitian. Dokumen penting biasanya akan dibagikan teman penelitian kita secara personal atau melalui grup. Untuk dapat membaca dokumen dengan mudah, kita membutuhkan aplikasi yang mendukung. Salah satu aplikasinya yang direkomendasikan yaitu Document Reader. Sebenarnya ada banyak macam aplikasi yang bisa digunakan untuk membaca dokumen seperti Google Doc, Spreadsheet, WPS Office dan lain-lain. Namun, penulis merekomendasikan Document Reader karena dari pengalaman penulis menggunakan aplikasi ini yaitu dapat dengan mudah membaca semua tipe dokumen bahkan Google Documen. Selain itu satu aplikasi dengan ukuran hanya belasan MB ini sudah  memiliki fitur lengkap dibandingkan kita menggunakan Google Doc atau WPS Office. Untuk mendapatkan aplikasi Document Reader, silahkan download di sini

Catatan Keuangan 
Catatan Keuangan | play.google.com
Keuangan jangan sampai minus ! Itu adalah moto yang harus kita pegang selama penelitian. Untuk menghindari minus dalam kas penelitian, kita butuh mendokumen setiap transaksi keuangan baik pada alur debet atau kredit. Sebenarnya kita membuat pemantauan kas menggunakan Microsoft Excel, tetapi ketika sedang di lapangan maka kita butuh mendokumentasikan langsung setiap proses transaksi. Untuk memudahkan pekerjaan tersebut, aplikasi yang bisa digunakan adalah Catatan Keuangan. Aplikasi ini dapat membantu pekerjaan dokumentasi transaksi selama penelitian. Di dalam aplikasi sudah tersedia menu Debet, Kredit dan Sisa Saldo. Dengan adanya menu tersebut maka akan sangat cukup buat kita mendokumentasikan proses transaksi dan untuk bukti kwitansi dapat didokumentasikan dengan Google Keep seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf di atas. Download aplikasi catatan keuangan di sini


Referensi : 
  1. https://www.dissertationrevision.com/top-10-challenges-faced-by-researchers-in-developing-countries/
  2. play.google.com
  3. Utomo, S.S., 2018. Guru di Era Revolusi Industri 4.0. https://eprints.uny.ac.id/

Minggu, 27 Desember 2020

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Grave's Disease
0

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Grave's Disease

Ilustrasi Pemeriksaan Pasien Grave's Disease | Pixabay.com
Definisi Grave's Disease 

Grave's disease merupakan masalah autoimun yang menyebabkan over produksi hormon tiroid. Kelebihan hormon tiroid dalam darah dapat menyebabkan seseorang mengalami keracunan atau dikenal dengan Thyrotoxicosis. Umumnya penyakit ini menyerang pada wanita usia lebih dari 40 tahunan. Namun pada beberapa kasus juga dapat ditemukan pada penderita berusia 20 tahun. 

Faktor Penyebab

Penyebab penyakit Grave bisa dibilang idiopatik atau tidak bisa dipastikan tetapi beberapa referensi menjelaskan bahwa adanya kelainan genetik dihubungkan dengan kemunculan penyakit ini. Secara normal sistem imun menghasilkan antibodi untuk menyerang bakteri atau virus tetapi pada penderita grave, antibodi yang dihasilkan justru menyerang kelenjar tiroid. 

Patofisiologi Grave's Disease 

Pathway Grave's Disease

Proses perjalanan penyakit atau patofisiologi Grave's Disease dimulai dari adanya produksi limfosit T dan B oleh tubuh yang bermutasi menjadi autoimun. Limfosit yang bermutasi ini kemudian menyerang reseptor TSH dan mengakibatkan produksi hormon T3 dan T4 abnormal secara terus menerus. Kadar hormon T3 dan T4 yang berlebihan dalam darah menyebabkan kondisi hipertiroid. Kondisi tersebut kemudian memicu respon inflamasi yang diinisiasi oleh sel T dan memicu fibroblast meningkatkan sekresi glukosaminoglikan. Sekresi glukosaminoligan yang berlebihan akan menyebabkan penumpukan matriks ekstrasseluler. Jika penumpukan tersebut berada di kulit akan menyebabkan pembengkakan kulit (miksedema). Jika penummpukan berada di mata maka akan menyebabkan mata menonjol keluar atau proptosis. Selain itu, penumpukan matriks ekstraseluler akan mengganggu vaskularisasi di retina sehingga menyebabkan pandangan kabur atau diplopia. Rasa nyeri juga dapat muncul karena adanya massa dari penumpukan matriks ekstraseluler di bagian konjungtiva. 

Disamping memproduksi limfosit T dan B yang bermutasi, tubuh juga memproduksi autoantibodi yang dapat menstimulus reseptor tirotropin secara terus menerus. Efeknya dapat menyebabkan pengambilan iodine di dalam sel meningkat dan terjadi peningkatan sekresi tiroglobulin. Produksi tiroglobulin yang berlebihan ini kemudian memunculkan kondisi Grave's Disease yang berlanjut ke perjalanan terjadinya hipertiroid. Hormon tiroid yang berlebihan karena Grave's Disease ini juga dapat memberikan stimulus ke kelenjar pituitari anterior sehingga menyebabkan pituitari merespon dengan menurunkan sekresi TSH. Menurunnya TSH akan berakibat produksi hormon tiroid akan menurun sehingga hal ini yang menyebabkan munculnya kondisi klinis pada pasien Grave's Disease bisa mengalami kondisi hipertiroid atau homorn tiroid terlalu rendah (hipotiroid). 

Tipe Penyakit

Penyakit Grave dibagi menjadi beberapa tipe antara lain : 

Grave's Ophtalmopathy 

Penderita dengan Grave's Opthalmopathy ditunjukkan dengan adanya peradangan pada jaringan otot dan beberapa jaringan lain di sekitar mata. Manifestasi klinis yang dapat dikaji meliputi : penonjolan mata (proptosis), terlihat seperti ada pasir pada mata, nyeri mata (konjungtivitis), sensitif terhadap cahaya, penglihatan ganda bahkan kabur (diplopia). 

Graves' dermopathy

Penderita dengan Grave's dermopathy memiliki manifestasi klinis berupa adanya kemerahan dan penebalan pada kulit, beberapa gejala juga menunjukkan penampakan yang mengkilat pada kulit. 

Manifestasi Klinis 

Manifestasi klinis secara umum yang dialami pada pasien dengan Grave's disease adalah sebagai berikut : 
  1. Kecemasan dan iritabilitas 
  2. Tremor pada tangan 
  3. Sensitif terhadap panas 
  4. Penurunan berat badan 
  5. Perbesaran kelenjar tiroid 
  6. Perubahan siklus menstruasi 
  7. Disfungsi erektil dan penurunan libido 
  8. Terjadi peningkatan defekasi 
  9. Merasa lemah 
  10. Denyut jantung ireguler atau takikardi 
  11. Tidur terganggu 

Risiko Komplikasi 

Risiko komplikasi yang dapat muncul pada penderita Grave's disease antara lain sebagai berikut : 
  1. Pada kehamilan : komplikasi yang dapat timbul pada kasus wanita hamil yang mengidap Grave;s disease dapat menyebabkan kelahiran imatur pada anak, disfungsi tiroid janin, gangguan pertumbuhan janin, keguguran, kegagalan jantung pada janin dan pre eklampsia
  2. Jika masalah tidak segera teratasi, dapat memicu gangguan irama jantung, perubahan struktur jantung 
  3. Peningkatan hormon tiroid yang tak terkontrol atau dikenal dengan istilah thyroid storm. 
  4. Kelemahan yang dapat mengakibatkan kelumpuhan atau osteoporosis. 
Masalah Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan pada pasien Grave disesuaikan berdasarkan manifestasi klinis yang muncul dan prioritas masalah yang mengancam jiwa pasien. Maka dari itu prioritas masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan Grave's Disease antara lain : 
  1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya pembengkakan pada kelenjar tiroid 
  2. Hipertermia berhubungan dengan adanya efek yang ditimbulkan dari kadar hormon tiroid yang berlebihan dalam darah
  3. Gangguan intake nutrisi berhubungan dengan adanya pembengkakan pada kelenjar 
  4. Kelemahan berhubungan dengan adanya proses metabolisme yang berlebihan pada tubuh
  5. Risiko ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan adanya penurunan nafsu makan atau gangguan proses menelan
  6. Risiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan adanya pembentukan jaringan matriks ekstraseluler yang berlebihan di kulit 
  7. Kecemasan berhubungan dengan adanya ketidaktahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya 

Referensi 

  1. Calgaryguide, https://calgaryguide.ucalgary.ca/
  2. Gathak, S., Maytin, E.V., Mack, J.A et al., 2015. Roles of Proteoglycans and Glycosaminoglycans in Wound Healing and Fibrosis. Int J Cell Biol, doi: 10.1155/2015/834893
  3. Mandal, A., https://www.news-medical.net/health/Diagnosis-of-Graves-disease.aspx
  4. Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/graves-disease/symptoms-causes/syc-20356240
  5. NHS,  https://www.nhs.uk/conditions/thyroiditis/#:~:text=Thyroiditis%20is%20swelling%20(inflammation)%20of,the%20body's%20growth%20and%20metabolism.
  6. Nurselabs, https://nurseslabs.com/7-hyperthyroidism-nursing-care-plan-ncp/

Rabu, 16 Desember 2020

Cara Implementasi Pemeriksaan Vital Signs untuk Praktik Keperawatan dan Bidan
0

Cara Implementasi Pemeriksaan Vital Signs untuk Praktik Keperawatan dan Bidan

Assalamu'alaikum Wr. Wb - Tanda vital atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Vital Signs merupakan parameter hasil dari proses fisiologi organ tubuh yang dapat diukur menggunakan alat seperti spygnomanometer, termometer dan arloji. 

Ilustrasi | pixabay.com

Tidak selamanya nilai tanda vital berada dalam rentang normal. Setiap waktu nilai tanda vital bisa berubah tergantung dari faktor usia, suhu dan tingkat aktivitas. Dalam dunia kesehatan, pemeriksaan tanda vital menjadi langkah utama untuk mengevaluasi kondisi pasien. Dengan mengetahui tanda vital, praktisi kesehatan seperti perawat, dokter atau bidan bisa menentukan langkah pertolongan pertama seperti apa  yang harus dilakukan. Misalnya jika ada pasien yang mengeluh sesak saat tiba di ruang instalasi gawat darurat (IGD), maka perawat bisa mengkaji berapa nilai respirasi dan tensi darah. Selain itu, perawat juga bisa mengkaji kondisi umum apakah kesadaran pasien penuh (compos mentis) atau tidak. 

Secara umum nilai tanda vital yang wajib dikaji dan memiliki rentang nilai normal adalah sebagai berikut : 

Tensi Darah 

Untuk dapat mengetahui besaran tekanan darah seseorang dibutuhkan alat spygnomanometer dan teleskop.Spygnomanometer memiliki 3 bagian : manset yang diisi dengan udara saat pengukuran dan dipasangkan pada lengan tepatnya di area arteri brakialis atau fosa antekubital. Kemudian gunakan teleskop digunakan untuk auskultasi bunyi denyut nadi saat pengukuran. Denyutan tersebut merupakan hasil dari pompa jantung ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Karena adanya dorongan dari jantung, maka akan muncul 2 tekanan yang bisa dideteksi pada pembuluh darah saat pemeriksaan : 
  1. Tekanan Sistolik : tekanan yang terbentuk ketika jantung berkontraksi dan memompa darah yang kaya oksigen ke pembuluh darah. 
  2. Tekanan Diastolik : tekanan yang terjadi ketika jantung bereleksasi dan umumnya tekanan diastolik lebih rendah dibandingkan tekanan sistolik.
Yang harus diperhatikan saat akan melakukan pemeriksaan tekanan darah agar dapat memperoleh nilai yang tepat adalah : 
  1. Jangan makan atau minum 30 menit sebelum pemeriksaan tensi darah 
  2. Kosongkan vesika urinaria atau berkemih terlebih dahulu agar tidak ada perasaan yang gelisah saat dilakukan pemeriksaan 
  3. Posisikan pada posisi duduk yang nyaman 5 menit sebelum pemeriksaan 
  4. Hindari posisi duduk dengan kaki bersilang atau meletakkan satu kaki di atas kaki yang lain 
  5. Letakkan tangan pada meja pada saat dipasangkan manset 
  6. Posisikan nilai tekanan manset berada pada posisi 0 
  7. Jangan berbicara saat Anda sedang dilakukan pemeriksaan tekanan darah 
Untuk dapat mengukur tensi darah dengan baik, seorang pemeriksa juga diharuskan memiliki kompetensi. Adapun kompetensi yang harus dikuasai antara lain sebagai berikut : 
  1. Pemeriksa memiliki kemampuan auskultasi yang baik yaitu dapat membedakan dengan jelas antara bunyi nadi pasien atau nadi miliknya pada saat meletakan stetoskop di area brakial. 
  2. Pemeriksa juga harus dapat melihat jarum pada manometer dengan jelas di mana batas tekanan sistolik dan diastolik. 
  3. Memahami perbedaan tekanan darah yang disebabkan karena suhu, aktivitas dan posisi duduk. 
  4. Memahami tujuan pemeriksaan dan edukasi kesehatan yang bisa diberikan kepada pasien yang diperiksa jikalau nilai tensi darah tidak berada dalam rentang normal. 
Cara meletakkan manset dan stetoskop untuk pengukuran tensi darah : 
Bagian Manset 

  1. Palpasi terlebih dahulu untuk mengkaji lokasi arteri brakhial dengan 3  jari di fosa antekubital. 
  2. Letakkan bladder (kantung udara) pada manset di atas area yang teraba arteri brakial. 
  3. Pastikan ada ruang di bawah manset untuk meletakkan stetoskop agar bisa dilakukan auskultasi. 
  4. Untuk memastikan manset tidak terlalu ketat, coba letakkan satu jari di bawah manset. Jika satu jari dapat dimasukkan artinya manset bisa diletakkan stetoskop di bawahnya 
  5. Lakukan inflasi udara ke bladder manset, pompa hingga 30 mmHg di atas titik bunyi nadi menghilang 
  6. Teknik deflasi atau pengeluaran udara dari manset dilakukan dengan kecepatan 2 mmHg per detik atau per satu denyutan nadi untuk mendapatkan nilai tekanan darah yang akurat. 
Mengenai hasil pemeriksaan tekanan darah, nilai pemeriksaan bisa menunjukkan bahwa pasien masuk ke dalam penderita hipertensi atau tidak. Jika ditinjau dalam hal tersebut, maka pengklasifikasiannya dibagi menjadi : 
  1. Normal : Sistole (<120 mmHg) dan diastole (<80 mmHg) 
  2. Peningkatan : Sistole (120 - 129 mmHg) dan diastole (<80 mmHg) 
  3. Hipertensi stadium 1 : Sistole (130 - 139 mmHg) dan diastole (80 - 89 mmHg) 
  4. Hipertensi stadium 2 : Sistole (> 140 mmHg) dan diastole > 90 mmHg) 

Rasio Respirasi (RR) 

Untuk dapat mengetahui nilai rasio pernapasan normal, maka langkah pengukuran dilakukan dengan inspeksi atau observasi. Namun seiring perkembangan teknologi pemeriksaan pernapasaan saat ini dapat dilakukan dengan beberapa teknologi salah satunya Vital Scope. Alat ini digunakan untuk mengukur pernapasan yang memanfaatkan sensor radar dengan gelombang frekuensi 24 GHz. Sensor tersebut akan memonitor pergerakan dada dan mengumpulkan informasi ke dalam prosesor pada device kemudian menghasilkan output berupa perhitungan jumlah pernapasan dalam 1 menit. 
Vital Cope | hindawi.com

Perubahan pernapasan dapat mengindikasikan adanya masalah yang sedang dialami pasien. Sekecil apapun perubahan tersebut, baik pertambahan 3 atau 5 kali per menit maka perlu adanya monitoring yang akurat. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan apakah perubahan pernapasan akan mempengaruhi kesadaran si pasien. Dalam kondisi gawat darurat, pengukuran pernapasan menurut Resusciation Council UK merupakan proses pengkajian ABCDE (Air ways, Breathing, Circulation, Disability, Exposure). Maksud dari pengkajian ABCDE yaitu Airways (memastikan jalan napas bersih atau tidak), Breathing (Apakah pernapasan dalam rentang normal atau tidak), Circulation (apakah perdarahan baik atau tidak dikaji melalui tekanan darah atau irama jantung), Disability (apakah ditemukan kecacatan atau tidak), Exposure (apakah pasien berada dalam lingkungan yang mengancam jiwa atau tidak). 

Pengklasifikasian nilai pernapasan pada orang dewasa di bagi sebagai berikut : 
  1. Pernapasan normal / eopnoea (12 - 20 kali per menit)
  2. Pernapasan normal untuk usia > 65 tahun (12 - 25 kali per menit) 
  3. Pernapasan normal untuk usia > 80 tahun (10-30 kali per menit) 
  4. Bradipnea / pernapsan lambat (< 12 kali per menit) 
  5. Takipnea / pernapasan cepat (> 20 kali per menit) 
Sementara pernapasan pada bayi baru lahir dan anak-anak berada dalam rentang berikut : 
  1. Bayi baru lahir (0 hari - 1 tahun) : 40 - 65 x / menit 
  2. Toddler (1 - 3 tahun) : 24 - 40 x / menit 
  3. Pra sekolah (3 - 6 tahun) : 22 - 34 x / menit 
  4. Usia sekolah (6 - 12 tahun) : 18 - 30 x / menit 
  5. Remaja (12 - 18 tahun) : 12 - 24 x / menit 
Beberapa faktor penyebab pernapasan tidak berada dalam rentang normal : 
  1. Takipnea dapat disebabkan oleh : Cemas, distres, nyeri, demam, berolahraga, asma, embolisme paru, pneumonia, acute respiratory distres syndrome, anafilaksis, gagal jantung, terkejut, diabetik ketoasidosis, gangguan nuromuskular, penyakit paru obstruksi kronis. 
  2. Bradipnea dapat disebabkan oleh : depresi pusat pernapasan, overdosis opioid, peningkatan tekanan intrakranial, koma diabetik, kelelahan karena obstruksi paru berat, tidur apnea, sindrom hipoventilasi karena obesitas

Temperatur 

Temperatur tubuh merupakan proses fisiologis yang bisa diukur dengan cara observasi dan palpasi. Sama halnya dengan beberapa parameter vital signs di atas, temperatur tubuh juga dapat berubah-ubah tergantung kepada jenis kelamin, aktivitas, dan siklus menstruasi pada wanita. Secara umum, nilai normal suhu tubuh baik dewasa dan anak-anak sama yaitu 36,5 - 37,2 derajat Celcius / 97,8 - 99 derajat Fahrenheitz. Alat pengukuran yang digunakan untuk memeriksa suhu tubuh adalah termometer. Penggunaan termometer air raksa saat ini tidak direkomendasikan penggunaannya karena air raksa bersifat toksik. 

Selain itu untuk memudahkan pengukuran di tempat umum, beberapa pengkaji juga menggunakan thermo gun
Termo gun | Dispatch.com

Pemeriksaan temperatur dapat dilakukan pada beberapa lokasi pengambilan : 
  1. Oral : pengambilan melalui jalur oral yaitu dengan memasukan termometer raksa atau digital ke dalam mulut. 
  2. Rectal : memasukkan termometer raksa atau digital ke dalam rektum atau anus. Suhu pada rektum biasanya akan lebih tinggi sekitar 0,5 - 0,7 derajat Fahrenheitz dibandingkan suhu oral. 
  3. Aksila : meletakkan termometer raksa atau digital pada area lipatan ketiak. Suhu pada aksila umumnya akan lebih rendah 0,3 - 0,5 derajat F dibandingkan suhu oral. 
  4. Kulit : dengan cara palpasi pada bagian anterior kepala atau dahi. 
  5. Di telinga : menggunakan termometer khusus untuk mengukur suhu pada gendang telinga 

    Termometer telinga | rapidcityjournal.com

Denyut Nadi 

Mengukur denyut nadi sama halnya dengan mengetahui denyut jantung. Hal tersebut karena ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh maka akan muncul tekanan hingga ke pembuluh nadi. Secara normal denyut nadi orang dewasa berada pada rentang 60 - 100 kali per menit. Denyut nadi bersifat fluktuatif dan akan meningkat ketika berolahraga, cemas, sakit dan marah. 

Pemeriksaan nadi | hopskinsmedicine.org

Untuk dapat memperoleh hasil pemeriksaan nadi yang akurat, maka langkah proses pemeriksaan adalah sebagai berikut : 

  1. Gunakan dua atau tiga jari untuk palpasi dengan memberikan sedikit tekanan pada area arteri (radialis / brakialis / karotis dll). 
  2. Hitung dengan menggunakan arloji pada saat jarum menunjuk ke angka 12. 
  3. Hitung nadi selama 60 detik, jikalau denyut jantung reguler maka dapat dilakukan selama 15 detik dan jumlah denyut nadi dikali 4
  4. Saat menghitung, fokus pemeriksa jangan hanya tertuju pada arloji tetapi perhatikan kekuatan denyut jantung 
  5. Jika tidak merasa yakin dengan hasil pemeriksaan, minta orang lain atau teman untuk memeriksa untuk memastikan kebenaran pemeriksaan. 

Demikian informasi mengenai cara implementasi pemeriksaan vital signs yang bisa dilakukan oleh praktisi kesehatan seperti keperawatan, bidan dan kedokteran. Semoga bermanfaat. 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Referensi 

  1. https://medlineplus.gov/ency/article/002341.htm
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279251/#:~:text=To%20measure%20blood%20pressure%2C%20the,let%20out%20of%20the%20cuff.
  3. https://www.cdc.gov/bloodpressure/measure.html 
  4. https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/HYP.0000000000000087
  5. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/vital-signs-body-temperature-pulse-rate-respiration-rate-blood-pressure#:~:text=The%20normal%20pulse%20for%20healthy,heart%20rates%20than%20do%20males.
  6. https://www.hindawi.com/journals/js/2018/4371872/
  7. https://www.nursingtimes.net/clinical-archive/respiratory-clinical-archive/respiratory-rate-3-how-to-take-an-accurate-measurement-25-06-2018/
  8. https://www.medicalnewstoday.com/articles/327164#healthy-rates

Minggu, 13 Desember 2020

Aplikasi Ujian CBT Gratis dengan Tampilan Responsive dan Fitur yang Lengkap
0

Aplikasi Ujian CBT Gratis dengan Tampilan Responsive dan Fitur yang Lengkap

Assalamu'alaikum Wr. Wb - Pada masa pandemi seperti sekarang, peran teknologi menjadi sangat krusial karena semua aktivitas yang bersifat tatap muka harus dilakukan secara online. Tidak terkecuali pada proses pembelajaran. Pelaksanaan ujian online menjadi salah satu proses untuk melakukan evaluasi kepada siswa atau mahasiswa sejauh mana pemahamannya terhadap materi yang disampaikan oleh dosen atau guru di kelas. 

Sejauh ini guru atau dosen sudah memanfaatkan platform online untuk melaksanakan proses ujian jarak jauh. Aplikasi yang banyak sering digunakan adalah Google Form. Secara keseluruhan, google form memang memiliki beberapa keunggulan selain karena gratis, google form juga memiliki fitur tampilan yang mudah dipahami. Namun kelemahan yang dimiliki Google Form yaitu ada pada saat pengumpulan jawaban siswa atau mahasiswa saat ujian, di mana jawaban akan dikumpulkan secara kolektif pada akhir ujian. Sehingga jika di tengah mengerjakan soal akses internet murid terputus, maka semua jawaban akan hilang karena tidak memiliki sistem penyimpanan satu persatu. Selain itu pada Google Form, operator atau pengawas ujian tidak bisa membuat token ujian atau memberhentikan mahasiswa di tengah ujian jika terindikasi kecurangan. 

Maka dari itu, menjawab masalah tersebut Biotekners memperkenalkan aplikasi Ujian CBT Gratis yang bisa dimanfaatkan guru atau dosen di kelas supaya bisa melaksanakan ujian online lebih terorganisir. Berikut fitur unggulan aplikasi Ujian CBT yang ditawarkan : 

  1. Akun multi pengguna yang terdiri atas 3 level : Admin, Guru, murid 
  2. Data mata pelajaran atau mata kuliah 
  3. Data guru atau dosen 
  4. Fitur mengatur siswa 
  5. Fitur menambah ujian dan kontrol ujian yang sedang berjalan 
Tampilan aplikasi dapat di lihat di bawah ini : 

Tampilan Login Murid

Halaman Login Admin
Halaman beranda
Tambah Soal 

Untuk melihat lebih lengkap proses penggunaan dan instalasi aplikasinya juga dapat melihat video di bawah ini : 


Bagaimana ? Jika sobat tertarik ingin menggunakan aplikasi di atas, silahkan membuka link download berikut.