Teknik Pengambilan Foto Luka untuk Proses Penelitian dan Case Studi - Biotekners

Minggu, 03 Januari 2021

Teknik Pengambilan Foto Luka untuk Proses Penelitian dan Case Studi

Illustrasi | pixabay.com

Latar Belakang

Penelitian luka di Indonesia terus berkembang dan semakin memanfaatkan teknologi yang maju. Metode penelitian luka terus mengalami pembaruan seiring dengan bertambahnya masalah baru yang ditemukan di lapangan. Untuk bisa memperoleh hasil penelitian yang baik, maka rancangan metode penelitian yang dirancang juga harus tertata dengan baik. Terutama metode harus berdasarkan studi terbaru yang sudah terbukti landasan empirisnya.  

Dalam proses penyusunan metode  penelitian ada tahapan yang dilakukan diantaranya merancang bahan dan alat penelitian, desain termasuk pembagian kelompok, cara pengukuran parameter, pengkodean dan penghitungan hasil menggunnakan uji statistik. Dalam perawatan luka, metode penelitian dapat berupa penentuan skala pengukuran, intervensi terapeutik, uji kultur atau biopsi dan cara pendokumentasian data luka berupa foto. Untuk pendokumentasian foto luka, peneliti tidak boleh mengabaikan beberapa poin penting dalam teknik pengambilan  meskipun sekilas terlihat sepele. 

Beberapa studi telah dilakukan tentang bagaimana proses pengambilan foto yang tepat agar keakuratan data untuk pengukuran bisa sesuai. Dalam hal ini, penulis mencoba merewiew paper tentang metode pengambilan foto luka berdasarkan riset yang sudah dilakukan. Metode penelusuran dan pemilihan studi dilakukan dengan mempertimbangkan impact factor > 1 dan nilai Qwartil (Q < 3 ) jurnal. 

Mengevaluasi Luka 

Proses mengevaluasi luka berarti menilai apakah luka masuk ke dalam grade ringan, sedang dan berat. Untuk bisa menentukan grade, maka beberapa parameter yang dapat diamati berupa luas luka (panjang x lebar), kedalaman, kondisi tepi luka. Tingkat derajat luka terbagi atas tingkat kebersihan luka yang dikelompokan berdasarkan klasifikasi Center for Disease Control dan Prevention (CDC)  : 
  1. Stase 1 : Luka dipastikan bersih. Tidak ada tanda infeksi, peradangan dan luka tertutup. 
  2. Stase 2 : Luka terkontaminasi namun tetap bersih. Luka jenis ini biasanya terhindar dari kontaminasi yang tidak wajar. Luka ini masuk ke jenis luka di sistem pernapasan, saluran kencing dan genital. 
  3. Stase 3 : Luka terkontaminasi. Luka terbuka dan bisa berasal dari kontaminasi penggunaan alat yang tidak steril. 
  4. Stase 4 : Luka kotor terinfeksi. Luka jenis berasal dari perawatan yang kurang baik pasca luka traumatik. Penyebab infeksi berasal dari mikroorganisme post tindakan operasi. 
Sedangkan derajat luka berdasasarkan tingkat kedalaman, dibagi menjadi kategori sebagai berikut  : 
  1. Stase 1 : ditandai dengan adanya kemerahan, teraba hangat dan biasanya disertai rasa nyeri
  2. Stase 2 mencapai lapisan ketebalan parsial dermis di kulit, ditandai dengan adanya luka terbuka berwarna pink kemerahan namun tidak ada slough (jaringan mati lunak)
  3. Stase 3 mencapai sebabgian besar lapisan dermis kulit bahkan hingga ke subkutan namun bagian tendon dan tulang belum terekspos 
  4. Stase 4 mencapai lapisan dermis kulit disertai dengan tereksposnya tulang dan tendon. Tereksposnya tulang bisa menyebabkan risiko infeksi dengan lingkungan eksterna sehingga biasanya pada stase 4 pressure ulcer akan disertai osteomyelitis (infeksi tulang). 

Eksplorasi Lokasi Luka 

Eksplorasi lokasi luka berarti mengkaji di mana saja bagian tubuh yang mengalami luka. Agar dapat menentukan dengan baik posisi luka, pengkaji harus mampu membedakan mana luka yang berada di area superfisial atau mencapai jaringan dermis sampai menghasilkan eksudat. Kemampuan membedakan warna luka yang pucat, iskemik atau nekrotik juga diperlukan. Jika luka ditemukan di beberapa lokasi bagian tubuh, maka perlu menggunakan diagram tubuh manusia atau tabel selanjutnya berikan label dengan urutan huruf atau angka. 

Luka yang Pucat | woundsource.com
Luka Iskemik | intechopen.com

Luka Nekrotik | bbraun.co.uk

Istilah Dalam Pengkajian Luka 

Dalam pengkajian luka, pengkaji harus memahami beberapa istilah yang menggambarkan kondisi luka. Pemahaman tentang istilah ini dapat bermanfaat untuk membantu mengisi data pengkajian luka. Beberapa istilah yang harus diketahui antara lain : 
  1. Eksudat : merupakan cairan yang dihasilkan luka, eksudat terbagi atas beberapa jenis : Sanguineus (berwarna merah darah), Serous (berwarna bersih atau kuning pucat), Serousanguineus (serous dengan sedikit kemerahan darah), purulen (pus berwarna kuning, hijau atau coklat), scant (jumlah cairan luka yang sedikit saat pergantian perban), ringan (eksudat sekitar 1/3 perban), sedang (eksudat hampir menutupi 2/3 perban dan kondisi perban basah sebagian), berat (kondisi perban semuanya basah menutupi lebih dari 2/3 perban luka). 
  2. Maserasi : merupakan kondisi kulit sekitar luka yang lembab berlebihan, ditunjukan dengan permukaan yang berwarna putih, lembut dan biasanya ada kulit yang rusak. 
  3. Skin tear : luka yang disebabkan karena gesekan yang menyebabkan terpisahnya jaringan kulit. 
  4. Wound bed : merupakan kondisi dasar luka yang terbagi atas granulasi atau tidak, infeksi atau tidak. 
  5. Calus : kondisi penebalan kulit pada area tepi luka 
  6. Eschar : jaringan nekrotik berwarna coklat atau hitam, teksturnya keras, lembut atau basah
  7. Epitelialisasi : proses regenerasi jaringan epidermis pada permukaan luka setelah melewati fase granulasi. 
  8. Sinus : jaringan yang rusak yang membentuk terowongan dari permukaan atau tepi luka
  9. Tunnel : mirip dengan sinus, namun arah kerusakan vertikal.  
  10. Slough : jaringan mati yang lunak dan sudah tidak memiliki vaskularisasi. Jaringan mati tersebut biasa berwarna putih, kuning atau hijau
  11. Undermining : jaringan rusak yang membentuk semacam kawah di bawah lapisan kulit yang utuh.

Kondisi maserasi | oska.uk.com
Kalus | pinterest.com
Sinus | science-photo.com

Slough | woundifenction-institute.com

Jenis dasar luka | imi.org.uk

Teknik Pengambilan Foto Luka

Alat Pengambilan Gambar

Agar dapat melakukan pengambilan gambar luka yang baik, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan salah satunya mempersiapkan alat pengambilan gambar. Alat pengambilan gambar yang yang dianjurkan adalah kamera digital dengan resolusi yang tinggi. Keuntungan jika pengambilan dilakukan dengan menggunakan kamera digital yaitu pada saat selesai pengambilan gambar, maka pemeriksa dapat meninjau dahulu hasil fotonya secara langsung. Peninjauan langsung gambar foto setelah pengambilan bertujuan untuk memastikan bahwa gambar luka yang diperoleh tidak blur, mendapatkan pencahayaan cukup dan tidak salah pada posisi pengambilan. Kamera dengan resolusi yang tinggi juga memberikan kemudahan untuk mengkaji detil kondisi luka secara akurat. Selain kamera digital, kamera tipe Digital Single-Lens Reflex (DSLR) dengan fokal lensa 60 mm, 90 mm atau 100 mm juga dapat memberikan hasil foto luka yang representatif karena dapat menghasilkan kualitas gambar, pencahayaan dan resolusi yang tinggi. Dengan menggunakan kamera DSLR, pengkaji juga dapat melakukan teknik photomacrography yaituu teknik untuk memperbesar gambar sama seperti kondisi asli luka. Jika pada kamera digital, maka pengaturan kamera harus berada pada settingan makro agar mendapatkan hasil gambar yang tajam. Kelemahan menggunakan kamera DSLR yaitu harga kamera ini cukup mahal dan ukurannya yang besar juga membutuhkan energi ekstra untuk membawa secara rutin kamera DSLR selama penelitian. 

Protokol Pengambilan Gambar Luka

Langkah-langkah pengambilan gambar luka dirangkum sebagai berikut : 
  1. Lepaskan semua balutan luka dan irigasi luka dahulu dengan NacL 0,9% 
  2. Setelah luka diirigasi, dokumentasikan kondisi luka dalam form pengkajian luka.
  3. Pengisian form pengkajian luka selesai, bersihkan jaringan nekrotik, slough dan debris. 
  4. Lakukan pengambilan gambar luka meliputi kulit yang sehat, selulitis dan kalus 
  5. Jika pada luka ditemukan kerusakan yang menyebabkan terbukanya jaringan kurang dari 2 cm maka dianggap masuk sebagai bagian luka yang sama. 
  6. Letakan penggaris luka di bagian bawah tepi luka (lebih bagus pada bagian luar selulitis atau kalus . 
  7. Gunakan penggaris berbentuk L dan sudut penggaris dengan arah kamera sejajar atau tanpa distorsi. 
  8. Untuk menghindari kesalahan pengambilan, kamera disejajarkan dengan bidang luka. 
  9. Atur antara jarak kamera dan luka atau menggunakan fungsi zoom, hindari pengambilan gambar yang buram dengan menggunakan auto fokus dengan menahan setengah tombol capture pada kamera. 
  10. Jika menggunakan cermin, pastikan tidak ada obstruksi pada cermin dan letakkan cermin pada posisi datar. Hasil gambar harus diposisikan terbalik dari posisi pada refleksi di cermin. 
  11. Standar perbesaran gambar untuk bagian tubuh orang dewasa berdasarkan  Wild Clinical Photographic : kaki (1: 25), tapak kaki (1: 10). Informasi lengkap tentang perbesaran gambar klik di sini
  12. Pastikan background objek foto netral, tidak ada objek lain yang bisa mendistraksi hasil foto
  13. Atur pencahayaan jika ingin menggunakan flash pada kamera agar tidak terlalu terang dan pencahayaan harus konsisten. 
  14. Lakukan pengulangan pengambilan gambar untuk mengantisipasi kualitas gambar yang kurang bagus pada pengambilan pertama. 
  15. Pengeditan foto untuk membuang bagian yang tidak penting dilakukan menggunakan Adobe Photoshop (Adobe Inc, San Jose, California), lakukan rotasi gambar sehingga gambar penggaris luka konsisten berada pada bagian bawah foto. 

Alur pengambilan gambar luka (1. Buka perban, 2. Irigasi luka, 3. Atur jarak pengambilan gambar, 4. Simpan | Rener et al., 2008)

Gambar luka yang diberi background non distraksi | imi.org.uk

Sudut pengambilan gambar luka (yang dilingkar merah yang benar) | Renner et al., 2008
Teknik pengambilan gambar luka dengan penggaris (yang dilingkar merah adalah teknik yang benar ) | imi.org.uk

Demikian informasi tentang teknik pengambilan foto luka untuk penelitian dan case studi. Jika ada tambahan informasi, silahkan berbagi dengan menghubungi kontak penulis. 

Referensi : 

  1. Anonim. 2003. WOCN Glossary of Wound Care Terms. Diakses dari : https://journals.lww.com/homehealthcarenurseonline/Citation/2003/08000/WOCN_Glossary_of_Wound_Care_Terms.3.aspx [2 Januari 2021]
  2. Anonim. 2018.Here’s the wound terminology you should know. Diakses dari : https://advancedtissue.com/2018/10/heres-the-wound-terminology-you-should-know/ [2 Januari 2021]
  3. Herman TF, Bordoni B. Wound Classification. [Updated 2020 May 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554456/
  4. Institute of Medical Illustrutators (IMI). 2019. IMI National Guidelines : Wound Management Photography [Online]. Diakses dari : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.imi.org.uk%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F04%2F2019_Apr_IMINatGuidelines_Wound-Management.pdf&psig=AOvVaw09h4n_1FDmujM8bpGtiISL&ust=1609732738013000&source=images&cd=vfe&ved=2ahUKEwjX8cPx7_7tAhXihUsFHZGSBGgQr4kDegUIARDjAQ [3 Januari 2021]
  5. Renert, R., Golinko, M et al., 2008. Standardization of Wound Photography Using the Wound Electronic Medical Record. Advances in Skin and Wound Care. Vol 22 (1) : 
  6. Vasudevan B. (2014). Venous leg ulcers: Pathophysiology and Classification. Indian dermatology online journal, 5(3), 366–370. https://doi.org/10.4103/2229-5178.137819






Share with your friends

Assalamualaikum. Ada pertanyaan ? Yuk diskusi di bawah