Pathway Inflamasi (Tinjauan Molekuler) - Biotekners

Kamis, 02 Juli 2020

Pathway Inflamasi (Tinjauan Molekuler)

Ilustrasi
Ilustrasi

Inflamasi merupakan suatu mekanisme respon yang terjadi ketika jaringan mengalami luka dan terinfeksi oleh bakteri atau virus sehingga memicu sistem innate imun melepas zat kimia seperti histamine, bradikinin dan prostaglandin untuk meningkatkan vasodilatasi. Selain itu, sistem innate imun juga akan melepaskan sitokin yang dapat mengundang sel imun lain untuk melawan infeksi pada lokasi yang mengalami perlukaan. Diagram proses inflamasi digambarkan sebagai berikut : 
Pathway Inflamasi
Pathway Inflamati
Faktor kausa inflamasi dimulai dari trauma agen kimia / fisik / infeksi bakteri. Ketika ada patogen masuk ke dalam tubuh, terdapat sistem imun antigen presenting cell (APC) seperti makrofag memfagositosis patogen tersebut. Patogen yang difagosit akan didegradasi menjadi antigen yang akan dipresentasikan ke permukaan sel kepada sel limfosit B dan TH0 yang kemudian digunakan untuk menciptakan mekanisme penyerangan terhadap patogen lain serta membentuk sistem memori.  
Aktifasi limfosit B kemudian akan memproduksi immunoglobulin E (IgE) (secara berurutan produksi antibodi dimulai dari IgM, IgG, IgD, IgA, IgE).  Aktivasi limfosit  TH0 akan mengaktivasi TH2 yang memproduksi sitokin berupa interleukin 2 (IL-2), IL-3, IL-4, IL-5, IL-9, IL-10, IL-13 dan Granulocyte Macrofag Colony Stimulating Factor (GM-CSF). Aktifasi limfosit B yang menghasilkan IgE akan dibantu berproliferasi dan diferensiasi oleh sitokin yang dihasilkan TH2. IgE yang sudah teraktivasi kemudian akan menstimulus sel Mast untuk produksi histamin, leukotrin, protease, Tumor Necrosis Factor α (TNF α), sitokin (IL-3, IlL-5, GM-CSF, platelet). 

Produksi histamin yang disekresikan ke pembuluh darah akan menyebabkan pelebaran (vasodilatasi) dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat sehingga memudahkan leukosit berdiapedesis (leukosit menembus pembuluh darah) untuk melakukan perlawanan terhadap patogen lain. Permeabilitas darah yang meningkat ini akan menunjukkan gejala edema. Sedangkan adanya perlawanan leukosit terhadap patogen lain akan menimbulkan gejala hangat sekitar area terinfeksi. Selain menyebabkan efek terhadap pembuluh darah, histamin juga dapat menyebabkan sel epitel memproduksi mukus. Produksi Leukotrin juga membantu histamin meningkatkan permeabiilitas pembuluh darah. 

Produksi protease menyebabkan degradasi (penghancuran) terhadap jaringan yang mungkin sudah rusak akibat infeksi. 

Produksi TNF α akan membantu aktivasi reseptor pada leukosit sehingga dapat menempel ke pembuluh darah untuk berdiapedesis.  

Produksi IL-3 mengaktivasi growth factor yang akan berperan dalam menciptakan pemulihan jika terjadi luka. 

Produksi IL-5 bersama platelet berperan sebagai kemoaktraktan eosinofil dan basofil (menarik sel eosinofil dan basofil lain untuk membantu perlawanan terhadap serangan patogen di area luka). Efek eosinofil dan basofil yang meningkat melakukan perlawanan terhadap patogen di area luka ini yang akan memberikan rasa hangat sekitar luka. 

Produksi GM-CSF akan mengakti sel granul untuk berproliferasi yang bersamaan dengan growth factor menciptakan pemulihan pada area luka. 

Referensi : 
  1. Holfman, W., Lakkis, F.G., Chalasani, G., 2015. B Cells, Antibodies and More, Clin J Am Soc Nephrol. Vol 11 : 1-18
  2. Pearlman, D.S., Aurora, 1999. Pathophysiology of Inflammatory Response. J Allerg Clin Immunol. Vol 104(4) : S132-7

Share with your friends

1 komentar

Assalamualaikum. Ada pertanyaan ? Yuk diskusi di bawah