Konsep & Praktik Perawatan Luka Modern Plus Update Riset Terkini - Biotekners

Minggu, 12 Juli 2020

Konsep & Praktik Perawatan Luka Modern Plus Update Riset Terkini


Definisi Luka 
Luka memiliki definisi adanya terputusnya kontinuitas jaringan epitel pada kulit akibat trauma fisik atau suhu. 


Tipe Luka 
Berdasarkan lama penyembuhannya, luka dibagi menjadi : 
  1. Luka Akut 
    Luka akut merupakan luka yang disebabkan oleh trauma yang bersifat aksidental atau pos operasi. Lama penyembuhannya diprediksi sekitar 8-12 minggu tergantung luas ukuran, kedalaman dan luas kerusakan apakah luka hanya mencapai lapisan epidermis atau sudah mencapai dermis hingga ke tulang. 
  2. Luka Kronis 
    Luka kronis merupakan luka yang penyembuhannya gagal atau melebihi batas durasi penyembuhan normal. 
Berdasarkan faktor penyebabnya, luka dibagi menjadi : 
  1. Pressure Ulcer (Luka Tekan) 
    Luka yang biasanya terjadi pada bagian bone prominence (tonjolan tulang) yang dihasilkan dari tekanan disertai dengan gesekan berulang atau terus menerus.Pressure ulcer dibagi lagi menjadi beberapa stase : Stase 1 ditandai dengan adanya kemerahan, teraba hangat dan biasanya disertai rasa nyeri, Stase 2 mencapai lapisan ketebalan parsial dermis di kulit, ditandai dengan adanya luka terbuka berwarna pink kemerahan namun tidak ada slough (jaringan mati lunak), Stase 3 mencapai sebabgian besar lapisan dermis kulit bahkan hingga ke subkutan namun bagian tendon dan tulang belum terekspos, Stase 4 mencapai lapisan dermis kulit disertai dengan tereksposnya tulang dan tendon. Tereksposnya tulang bisa menyebabkan risiko infeksi dengan lingkungan eksterna sehingga biasanya pada stase 4 pressure ulcer akan disertai osteomyelitis (infeksi tulang). 
    Studi terbaru menjelaskan bahwa  luka tekan juga dapat terjadi di bawah kulit tanpa menyebabkan kerusakan permukaan kulit atau dikenal dengan Deep Tissue Pressure Injury (DTPI). Faktor pemicunya diduga tekanan atau gesekan yang terus menerus menyebabkan deformasi sel hingga kematian. 
    Pressure ulcer
    Pressure Ulcer | Medetec.co.uk

  2. Arterial Ulcer (Luka Arteri) 
    Luka yang disebabkan akibat adanya penyakit arteri perifer, biasanya terjadi pada bagian superior dan inferior jari kaki, inferior kaki atau dari distal ke medial malleolus (tumit). Penyakit arterial disebabkan adanya oklusi pada aliran pembuluh arteri hingga dapat menyebabkan nekrosis. 
    Luka Arterial Terinfeksi
    Luka Arterial Terinfeksi | researchgate.net

  3. Venous Ulcer (Luka Vena)
    Luka yang disebabkan karena penyakit vena perifer, biasa terjadi pada bagian proksimal ke medial atau lateral area malleolus. Faktor pemicu luka venous dapat berupa usia yang masuk lansia, obesitas, imobilitas dan adanya kelainan kongenital pada pembuluh vena. 

    PDF) Venous ulcer: Current concepts
    Venous Ulcer | researchgate.net

  4. Diabetic Ulcer (Luka Diabetes) 
    Luka diabetes merupakan luka kronis yang terjadi karena kegagalan penyembuhan akibat penyakit diabetes. Luka diabetes sering terjadi pada area kaki atau dikenal dengan Diabetic Foot Ulcer (DFU). Adanya mikroangiopati dan arteriosklerosis menyebabkan suplai nutrisi ke jaringan inefektif sehingga muncul komplikasi seperti iskemik hingga nekrosis dan neuropati. Untuk DFU, terdapat pembagian tipe luka meliputi : 
    - Stase 1 - Normal foot tanpa risiko (kaki normal tanpa gejala apapun) 
    - Stase 2 - High risk foot (kondisi kaki berisiko mengalami luka seperti jika terdapat deformitas
                     pada bentuk kaki)
    - Stase 3 - Ulcerated foot (kaki sudah mengalami luka) 
    - Stase 4 - Cellulitic Foot (kulit kaki disertai infeksi dengan penampakan kulit tampak kering dan
                     bersisik) 
    - Stase 5 - Necrotic Foot (luka yang sampai menyebabkan kematian pada jaringan) 
    -Stase 6 - Foot that cannot be rescued (luka yang menyebabkan kaki tidak tertolong lagi sehingga harus diamputasi)

    Berdasarkan skala Wagner, derajat keparahan luka DFU dibagi menjadi 
    -Skala 0 - Tidak ada luka 
    -Skala 1 - Luka hanya berada di superfisial dan belum penetrasi ke jaringan dalam 
    -Skala 2 - Luka mencapai dermis, tendon dan tulang, biasanya bagian prominens juga terekspos 
    -Skala 3 - Luka disertai osteomyelitis, selulitis atau abses 
    -Skala 4 - Terdapat gangren kering atau basah parsial pada dorsal atau plantar pedis 
    -Skala 5 - Gangren mencapai kesuluruhan pedis dengan jaringan nekrotik dan berisiko tinggi diamputasi 
Stase Luka 
Untuk mencapai ke tahap penyembuhan ada beberapa tahap lain yang akan dilewati luka : 
  1. Tahap Inflamasi 
    Pada  tahap ini ketika terjadi perlukaan, pembuluh darah akan berkontraksi dan faktor koagolasi akan bekerja untuk mencegah kebocoran akibat trauma. Faktor koagulasi terbentuk karena agregasi trombosit dan platelet yang bekerja membentuk benang-benang fibrin. Jaringan fibrin yang terbentuk akan mencegah invasi bakteri, membentuk matriks ekstraseluler dan memudahkan faktor-faktor pemulihan seperti fibroblast untuk mengembalikan fungssi kulit secara normal sebagai pelindung. Lebih lengkap tentang tahap inflamasi dapat membaca kembali artikel saya tentang inflamasi di sini
  2. Tahap Proliferasi 
    Pada tahap ini akan terjadi peningkatkan perbaikan di lesi dengan cara kontraksi dan fibroplasia dan mengaktivasi keratinosit untuk membentuk lapisan epitel. Selain fibroplasia, proses lain yang telibat didalamnya ada angiogenesis dan reepitelialisasi. Pada fase proliferasi, terdapat sel mural (perisit) pembuluh darah mikro yang bergerak secara aktif di sepanjang membran basal endotelial. Perisit yang merupakan jaringan mesenkim ini pada umumnya bertugas membentuk adiposit, kartilago, otot dan tulang. Pembentukan granul (granulasi) pada fase ini juga diaktifkan dan berlangsung 4 jam setelah terjadi lesi. Granulasi terbentuk dari beberapa mekanisme seperti proliferasi fibroblast, biosintesis kolagen dan elastin. 
  3. Tahap Remodeling 
    Fase ketiga ini dimulai sejak 2 sampai 3 minggu sejak terjadi lesi. Sebagian membutuhkan waktu hingga 1 tahun untuk bisa mengembalikan fungsi kulit dengan sempurna. Poin penting pada fase remodeling yaitu adanya penyempurnaan pembentukan matriks ekstraseluler melalui proses reorganisasi, degradasi dan resintesis. Proses ini terus berlanjut sampai struktur jaringan kembali normal.  Normalnya jaringan ditandai dengan hilangnya pembuluh darah, fibroblast dan sel inflamasi dari area luka dikarenakan proses emigrasi. 
Cara Mengukur Luka 
Pengukuran luka merupakan teknik untuk mengetahui luas dan kedalaman luka. Ada 2 teknik pengukuran yang bisa dilakukan : 
  1. Pengukuran dengan Contact Device 
    Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan peralatan yang berkontak langsung dengan luka. Pengukuran yang dapat dilakukan metode ini yaitu mengkaji luas (panjang x lebar) dan kedalaman luka. Peralatan yang bisa digunakan untuk mengukur : penggaris, Kundin tool, Manual Tracing dan Wound Filling. Mengukur luka menggunakan penggaris dilakukan dengan menentukan garis antara titik terpanjang untuk panjang(P) titik terlebar untuk lebar (L).Studi lain menjelaskan formula yang dapat digunakan untuk mengukur jika berbentuk persegi, rumusnya A = PxL dan jika berbentuk lingkaran (A = (π x P x L)/4, π = 3,14). Satuan yang digunakan untuk mengukur adalah centimeter (cm). 
    Mengukur Luas & Kedalaman Luka | Health Quality Innovators

    Untuk mengukur kedalaman luka, tunnel dan undermining dibutuhkan cotton bud. 
    Mengukur Tunnel (Terowongan Luka) | Health Quality Innovators 


    Mengukur Undermining (Ruang Bawah Kulit) | Health Quality Innovators
  2. Pengukuran dengan Uncontacted Device 
    Pengukuran ini memiliki tujuan yang sama dengan contact device yaitu untuk mendapatkan data gambaran luas dan kedalaman luka, namun pada metode ini alat yang digunakan tidak bersentuhan dengan area atau tepi luka (periwound). Contoh perlengkapan yang digunakan dengan metode ini yaitu pengambilan gambar digital menggunakan aplikasi yang terinstall di smartphone, termograph, teknologi laser 3 dimensi dan stereofotogrametri. 

    Tips Mengukur Luka 
    - Pengambilan foto harus dilakukan maksimal 24 jam sejak dilakukan pendataan pasien
    - Untuk follow up pengambilan gambar perkembangan luka dilakukan setiap minggu. Angle
    pengambilan gambar harus sama dengan gambar saat pertama kali luka didata. 
    - Foto luka yang diambil tidak blur dan gelap
    - Foto luka yang diambil tidak boleh dilakukan manipulasi baik pencahayaan menggunakan software edit foto
    - Berhati-hati dalam pengambilan gambar menggunakan flash agar bagian penting yang tampak pada luka seperti penampakan tulang tidak hilang dalam gambar 
    - Meletakkan penggaris luka harus menempel pada bagian periwound atau berdekatan dengan kulit yang tidak ada luka (perhatikan gambar di bawah)
    - Memberikan color scale pada penggaris luka saat melakukan dokumentasi